Tulisan
Konsep pendidikan Ideal Menurut prof Al-Attas
Zeyd Farkhi Ahmad
penulis akan memaparkan konsep pendidikan Islam menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas, seorang ulama kontemporer yang memiliki otoritas tinggi dalam hal pendidikan dan pemikiran. Menurutnya, Ta’dib (penanaman adab) merupakan konsep pendidikan yang paling ideal dalam menghadapi hilangnya Adab (loss of Adab), di sebabkan pembekalan ilmu yang salah atau kerusakan ilmu (confusion of knowledge).
Sebagaimana yang kita ketahui, di masa kontemporer ini, banyak sekali kejahatan yang di lakukan oleh berbagai guru atau pemimpin yang tidak melaksankan amanahnya dengan benar, sehingga terjadi banyak sekali kerusakan di zaman ini. Maka, menurut Dr.Ardiansyah, zaman ini dapat mengakibatkan kezaliman, kebodohan, dan kegilaan. Pendidikan berbasis adab masyarakat beradab.
Konsep Ta’dib dan Istilah-Istilah Konseptual
Pada dasarnya tujuan utama pendidikan islam yakni adalah agar lebih mendekatkan diri pada Allah subhana wata’alla. Penanaman pendidikan Islam pada suatu objek, akan menghasilkan generasi yang akan melanjutkan perjuangan agama dan negara. Suatu peradaban akan gemilang apabila di dalamnya nampak suatu generasi yang gemilang pula. Dalam sejarahnya, pendidikan Islam mampu untuk membangkitkan empat generasi terbaik. Yakni pada generasi sahabat Nabi, generasi Shalahuddin al-Ayyubi, generasi Muhammad al-Fatih, hingga dalam negeri kita sendiri, yakni pada generasi santri 10 November 1945.
Menurut prof Syed Muhammad Naquib al-Attas, adab menjadi salah satu syarat mutlak yang tidak bisa di hilangkan dari konsep pendidikan Islam. Dalam pandangan beliau problem utama yang dihadapi oleh umat Islam saat ini ialah ‘Loss of Adab’ (hilang adab). Sehingga apabila itu terjadi, maka akan menibulkan sebuah kerusakan dalam ilmu dan melahirkan pemimpin-pemimpin yang jahat.
Ta’dib menjadi jawaban atas istilah Loss of Adab ini, menurut al-Attas, pendidikan adab berbasis adab merupakan kunci untuk melahirkan manusia yang beradab dan mampu mewujudkan tujuan pendidikan berupa perbaikan yang sebenarnya. Menurut Dr. Ardiansyah, pendidikan berbasis adab akan melahirkan insan yang beradab. Penyerapan dan pengamalan adab pada setiap individu akan melahirkan masyarakat yang beradab dan membentuk suatu peradaban.
Konsep pendidikan islam yang ideal, adalah konsep pendidikan islam berbasis adab. Adab menjadi sebuah acuan dasar untuk memahami suatu ilmu, sehingga adab dapat dikatakan adalah sebuah asas dari suatu konsep pendidikan Islam. Adab adalah sumber dan kunci utama dalam konsep pendidikan islam. Sedangkan istilah lain menjadi unsur fundamental dalam pandangan islam, seperti konsep makna, ilmu, hikmah, adil¸dan lain sebagainya, juga berkaitan dengan adab.
Dalam pandangan beliau tujuan utama pendidikan ialah, melahirkan manusia-manusia yang baik (good man), atau manusia beradab (insan adabi). Sedangkan dalam proses pendidikan yang utama adalah proses penanaman adab ke dalam diri manusia, sebagai manusia. Maka dapat di simpulkan bahwa, konsep pendidikan dalam islam ialah, menanamkan adab dalam diri seorang muslim.
Definisi adab sendiri telah diterangkan oleh al-Attas pada tahun 1973 dalam bukunya, Risalah untuk Kaum Muslimin:
“Sebab adab itu sesungguhnya suatu kelakukan yang harus diamalkan atau dilakukan terhadap diri, dan yang berdasarkan pada ilmu, maka kelakukan atau amalan itu bukan sahaja harus ditujukan kepada sesama insani, bahkan kepada seluruh kenyataan makhluk jelata, yang merupakan maklumat bagi ilmu.”Pada penjelasan di atas dapat di simpulkan bahwasanya, penerapan adab tidak hanya di terapkan kepada sesama manusia, tapi mencakup pada segala sesuatu yang wujud. Adab tidak hanya berhubungan dengan perilaku atau etika semata, akan tetapi adab berhubungan dengan Tuhan, alam, diri sendiri, akal, jiwa, waktu dan lain sebagainya.
Dalam buku beliaunya, The Concept of Education in islam, al-Attas menyatkaan makna tentang adab, yakni:
“Adab is recognition, and acknowledgement of the reality that knowledge and being are ordered hierarchically according to their various grades and degrees of rank, and of one’s proper place in relation to that reality and to one’s physical, intellectual, and spiritual capacities and potential.”‘Recognition’ (pengenalan) yang dimaksudkan al-Attas adalah ilmu, untuk menjadi manusia yang beradab, manusia memerlukan bekal ilmu yang memadai. Sedangkan ‘acknowledgement’ (pengakuan) yang berartikan pengamalan atas ilmu tersebut. Ketika manusia sudah memiliki dua aspek tersebut, maka ia akan mengetahui bahwasanya segala yang wujud itu diciptakan berbeda, baik dalam segi fisik, intelektual, dan spiritual. Dengan begitu manusia yang beradab akan bisa menempatkan sesuatu pada tempat nya, hal inilah yang disebut Dr.Ardianysah dengan istilah keadilan.
Pada kesempatan yang lain, al-Attas mengkorelasikan antara adab, ilmu dan juga adil. Kalam al-Attas yang cukup populer di kalangan intelektual dalam hal tujuan konsep pendidikan Islam, dalam bukunya “Islam and Secularism”, al-Attas mengatakan:
“The purpose for seeking knowledge in islam is to inculcate goodness or justice in man as man and individual self. The aim of education in Islam is therefore to produce a good man…the fundamental element inherent in the Islamic concept of education is the inculcation of adab...Dr. Adian Husaini menjelaskan berkaitan dengan ucapan tersebut, bahwasanya, penanaman nilai-nilai kebaikan dan keadilan merupakan tujuan dari mencari ilmu. Pendidikan sebagai suatu proses pembentukan sikap dan perilaku beradab untuk menegakkan keadilan. Pendidikan yang benar bukan sekedar bertambahnya wawasan atau pengajaran, akan tetapi perubahan sikap dan perilaku merupakan bagian paling penting dalam pendidikan.
Jadi, pemaknaan adab tidak sebatas hanya sekedar sopan santun, atau bukan pula sebagai aplikasi dalam pendidikan dasar saja. Adab adalah suatu ilmu dan amal yang harus selalu melekat pada diri manusia sepanjang hidupnya, kapan saja dan dimana saja dia berada. Dengan adab manusia harus mampu bersikap adil pada perbedaan yang ada pada tempatnya yang wajar.